TUGAS BAHASA INDONESIA
MENGANALISIS TEKS CERITA SEJARAH

Oleh
:
Galuh Prakasiwi 6714-13
Hari Dwi Kisbiyantoro 6720-13
Indah Lestari 6733-13
Moh. Hasan Abdillah 6778-13
Hari Dwi Kisbiyantoro 6720-13
Indah Lestari 6733-13
Moh. Hasan Abdillah 6778-13
SMA
NEGERI 2 GENTENG
Alamat : Jl. Pandan, Genteng, Banyuwangi, Telp. (0333) 845821, Banyuwangi
Website : www.sman2genteng.orge-mail :smanduagenteng@yahoo.com
Website : www.sman2genteng.orge-mail :smanduagenteng@yahoo.com
2015
Sejarah Gandrung Banyuwangi
Gandrung Banyuwangi merupakan
seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa
dan Bali. Tarian ini sekarang dilakukan oleh pasangan perempuan dan laki-laki,
namun pada zaman dahulu diawali oleh laki-laki.
Kesenian Gandrung
Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” (Tirta arum)
untuk membangun ibu kota Balambangan. Pada tahun 1767 terjadi penyerbuan
Kompeni untuk merebut Balambangan, dan berhasil dimenangkan oleh Kompeni pada
tanggal 11 Oktober 1772. Sebagian penduduk yang masih hidup ada yang melarikan
diri, tertawan, hilang, dan dibuang, sedang sisanya hidup terlantar dengan
keadaan sangat memprihatinkan. Gandrung semula
dilakukan oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang
dan beberapa rebana yang dilakukan setiap malam hari untuk mencari dana bantuan
untuk masyarakat yang kekurangan.
Gandrung
laki-laki ini lambat laun lenyap sekitar tahun 1890, diduga karena ajaran Islam
melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Oleh
sebab itu muncullah Gandrung wanita, Gandrung wanita pertama adalah Gandrung Semi,
seorang anak kecil yang waktu itu masih sepuluh tahun pada tahun 1895,
selanjutnya gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik
perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya.
Kesenian ini
kemudian terus berkembang di Banyuwangi dan menjadi ikon khas. Pada mulanya
gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya,
namun sejak tahun 1970 mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan
gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata
pencaharian dan juga untuk mempertahankan eksistensi Gandrung.
a.
Judul
teks : Sejarah Gandrung
Banyuwangi
b.
Tokoh
utama : Gandrung Semi
c.
Latar : Banyuwangi,
Balambangan
d.
Struktur
teks :
|
Struktur
|
Isi Teks
|
|
1.
Pengenalan
|
· “Gandrung Banyuwangi merupakan seni pertunjukan yang
disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.”
· Kalimat tersebut berisi tentang gambaran umum mengenai Gandrung
Banyuwangi pada umumnya. (dapat dianalisa dari penggunaan kata ‘merupakan’)
|
|
2.
Rekaman
peristiwa
|
·
Kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan
dengan dibabadnya hutan Tirtagondo.
·
Pada tahun 1767 terjadi penyerbuan Kompeni
untuk merebut Balambangan, dan berhasil dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal
11 Oktober 1772.
·
Gandrung dilakukan oleh kaum lelaki
setiap malam untuk mencari dana bantuan untuk masyarakat yang kekurangan.
·
Gandrung laki-laki lambat laun lenyap sekitar
tahun 1890, sehingga muncul Gandrung wanita.
·
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi kemudian
diikuti oleh adik-adiknya.
|
|
3.
Penutup
|
· ‘Gandrung Banyuwangi berkembang pesat di kota itu, dan bukan
hanya keturunan Gandrung saja yang bisa mempelajarinya, namun diperbolehkan
untuk ditarikan oleh masyarakat luas.’
|
e.
Kaidah
kebahasaan :
|
Fitur Dominan
|
Isi Teks
|
|
1.
Jenis kalimat
|
· Kalimat masa lampau : ‘Pada tahun 1767 terjadi penyerbuan Kompeni untuk
merebut Balambangan’
· seorang anak
kecil yang waktu itu masih sepuluh tahun pada tahun 1895.
|
|
2.
Jenis kata
|
· Kata-kata tindakan : ‘Kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan
dengan dibabadnya hutan Tirtagondo untuk membangun ibu kota
Balambangan’
|
|
3.
Kekhasan lain
|
· Konjungsi temporal : ‘selanjutnya gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian
diikuti oleh adik-adik perempuannya’
· Konjungsi kausalitas : ‘Oleh sebab itu muncullah Gandrung wanita’
· Keterangan waktu, dan tempat : di Banyuwangi,
pada tahun
1895, setiap malam hari.
· Pada bagian penutup berisi tentang kesimpulan Gandrung.
· Pada bagian pengenalan berisi tentang penjelasan mendasar tentang
asal mula tarian Gandrung Banyuwangi.
· Susunan ceritanya runtut hingga pada klimaks.
· Susunan katanya tidak berbelit dan terlalu bertele-tele.
|
f.
Kesimpulan
|
·
Ditinjau dari
struktur teks dan kaidah kebahasaan, cerita tersebut dapat dikategorikan
sebagai teks cerita sejarah.
·
Ditinjau dari
Struktur teks, pengenalan terdapat pada paragraf pertama yang menjelaskan
Gandrung banyuwangi secara umum, rekaman peristiwa terdapat pada paragraf kedua
dan ketiga yang menjelaskan secara runtut tragedi-tragedi yang menimbulkan
adanya Gandrung Banyuwangi, dan bagian penutup terdapat pada paragraf keempat
yang memberitahu pembaca tentang kejadian akhir atau klimaks dari runtutan
peristiwa yang terjadi pada paragraf-paragraf sebelumnya.
·
Ditinjau dari
kaidah kebahasaan juga teks tersebut dapat dikategorikan sebagai teks cerita
sejarah, karena sudah terdapat kalimat masa lampau, kata tindakan, konjungsi
temporak, konjungsi kausalitas, dan juga keterangan waktu dan tempat.
|
No comments:
Post a Comment