Friday, August 14, 2015

menganalisis cerita sejarah

TUGAS BAHASA INDONESIA
MENGANALISIS TEKS CERITA SEJARAH
Smada_gtg


Oleh :
Galuh Prakasiwi                              6714-13
Hari Dwi Kisbiyantoro                   6720-13
Indah Lestari                                  6733-13
Moh. Hasan Abdillah                     6778-13





SMA NEGERI 2 GENTENG
Alamat : Jl. Pandan, Genteng, Banyuwangi, Telp. (0333) 845821, Banyuwangi
Website :
www.sman2genteng.orge-mail :smanduagenteng@yahoo.com
2015



Sejarah Gandrung Banyuwangi
Gandrung Banyuwangi merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian ini sekarang dilakukan oleh pasangan perempuan dan laki-laki, namun pada zaman dahulu diawali oleh laki-laki.
Kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan. Pada tahun 1767 terjadi penyerbuan Kompeni untuk merebut Balambangan, dan berhasil dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772. Sebagian penduduk yang masih hidup ada yang melarikan diri, tertawan, hilang, dan dibuang, sedang sisanya hidup terlantar dengan keadaan sangat memprihatinkan. Gandrung semula dilakukan oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana yang dilakukan setiap malam hari untuk mencari dana bantuan untuk masyarakat yang kekurangan.
Gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap sekitar tahun 1890, diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Oleh sebab itu muncullah Gandrung wanita, Gandrung wanita pertama adalah Gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih sepuluh tahun pada tahun 1895, selanjutnya gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya.
Kesenian ini kemudian terus berkembang di Banyuwangi dan menjadi ikon khas. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970 mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian dan juga untuk mempertahankan eksistensi Gandrung.
a.       Judul teks                    : Sejarah Gandrung Banyuwangi
b.      Tokoh utama               : Gandrung Semi
c.       Latar                            : Banyuwangi, Balambangan
d.      Struktur teks               :
Struktur
Isi Teks
1.      Pengenalan
·      Gandrung Banyuwangi merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.”
·      Kalimat tersebut berisi tentang gambaran umum mengenai Gandrung Banyuwangi pada umumnya. (dapat dianalisa dari penggunaan kata ‘merupakan’)
2.      Rekaman peristiwa
·      Kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan Tirtagondo.
·      Pada tahun 1767 terjadi penyerbuan Kompeni untuk merebut Balambangan, dan berhasil dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772.
·      Gandrung dilakukan oleh kaum lelaki setiap malam untuk mencari dana bantuan untuk masyarakat yang kekurangan.
·      Gandrung laki-laki lambat laun lenyap sekitar tahun 1890, sehingga muncul Gandrung wanita.
·      Tradisi gandrung yang dilakukan Semi kemudian diikuti oleh adik-adiknya.
3.      Penutup
·      ‘Gandrung Banyuwangi berkembang pesat di kota itu, dan bukan hanya keturunan Gandrung saja yang bisa mempelajarinya, namun diperbolehkan untuk ditarikan oleh masyarakat luas.’

e.       Kaidah kebahasaan     :
Fitur Dominan
Isi Teks
1.      Jenis kalimat
·      Kalimat masa lampau : ‘Pada tahun 1767 terjadi penyerbuan Kompeni untuk merebut Balambangan’
·      seorang anak kecil yang waktu itu masih sepuluh tahun pada tahun 1895.
2.      Jenis kata
·      Kata-kata tindakan : ‘Kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan Tirtagondo untuk membangun ibu kota Balambangan’
3.      Kekhasan lain
·      Konjungsi temporal : ‘selanjutnya gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya’
·      Konjungsi kausalitas : ‘Oleh sebab itu muncullah Gandrung wanita’
·      Keterangan waktu, dan tempat : di Banyuwangi,
pada tahun 1895, setiap malam hari.
·      Pada bagian penutup berisi tentang kesimpulan Gandrung.
·      Pada bagian pengenalan berisi tentang penjelasan mendasar tentang asal mula tarian Gandrung Banyuwangi.
·      Susunan ceritanya runtut hingga pada klimaks.
·      Susunan katanya tidak berbelit dan terlalu bertele-tele.

f.       Kesimpulan
·         Ditinjau dari struktur teks dan kaidah kebahasaan, cerita tersebut dapat dikategorikan sebagai teks cerita sejarah.
·         Ditinjau dari Struktur teks, pengenalan terdapat pada paragraf pertama yang menjelaskan Gandrung banyuwangi secara umum, rekaman peristiwa terdapat pada paragraf kedua dan ketiga yang menjelaskan secara runtut tragedi-tragedi yang menimbulkan adanya Gandrung Banyuwangi, dan bagian penutup terdapat pada paragraf keempat yang memberitahu pembaca tentang kejadian akhir atau klimaks dari runtutan peristiwa yang terjadi pada paragraf-paragraf sebelumnya.
·         Ditinjau dari kaidah kebahasaan juga teks tersebut dapat dikategorikan sebagai teks cerita sejarah, karena sudah terdapat kalimat masa lampau, kata tindakan, konjungsi temporak, konjungsi kausalitas, dan juga keterangan waktu dan tempat.



No comments:

Post a Comment